Sabtu, 06 Agustus 2016

Bagaimana?

Salahkah apa yang aku pilih?
Salahkah aku memilih ibuku yang sudah tua dan adikku yang autis?
Salahkah aku melepaskan suami yang bagiku bukan imam yang baik untuk aku dan icha?
Salahkah aku melepaskan suami yang tidak menghargai ibu dan adikku?
Jangankan menghargai mereka, akupun tidak dihargainya...
Haruskah aku mati didalam pernikahan itu?
Haruskah aku korbankan masa depan icha, ibuku dan adikku?
Haruskah aku korbankan mereka hanya untuk seorang laki2 yang menyia-nyiakan mereka?
Apa yang tersisa jika aku tetap bertahan?
Terakhir kalinya aku bertahan, aku typus selama 3 minggu, icha selama 2 minggu...
Bertahan hidup sendiri tanpa dia peduli sama sekali...
Tidak kedokter, apalagi dirawat di rumah sakit...
Tidak dirawat, apalagi di sediakannya makanan...

Tetapkah aku salah meminta cerai? Demi imanku, demi ichaku, demi ibu dan adikku?

Sakit... Harapan... Waktu

Ketika aq berfikir aq baik baik saja, ketika aq berfikir aq bisa bertahan, ketika aq berfikir aq tidak akan memikirkan, ketika aq berfikir melupakan rasa itu, ketika aq berfikir aq meletakkan jauh rasa itu didasar otakq.... Ketika aq berfikir aq bisa melakukannya...

Tapi ternyata aq tidak bisa melupakan rasa itu, aq tidak bisa menghilangkan trauma itu.... Masih banyak rasa takut, masih banyak rasa trauma.... Mudah untuk mengucapkan jangan takut, kita harus maju, kita lupakan.... Tapi sulit... Susah... Terlebih untuk mempercayai lagi, merasakan lagi.... Itu susah.... Perasaan sayang... Perasaan menyayangi masih tersimpan erat didalam peti, jauh didalam hati.... Takut untuk dibuka lagi, takut untuk percaya lagi, takut untuk memulai hubungan lagi, takut berhubungan lagi.... Takut...

Didalam hati masih banyak tersimpan harapan... Harapan... Harapan...
Sebegitu sakitnya luka ini, sebegitu dalamnya luka ini, sebegitu beratnya untuk bangkit, sebegitu mudahnya untuk menyerah...

Waktu kah yg dapat menyembuhkan?
Seberapa banyak waktu yg dibutuhkan hati ini... Selamanya kah? Apakah itu artinya aq tidak bisa percaya lagi...