Rabu, 08 Januari 2014

Usia Membuat Dewasa

Salah satu pelajaran yang aku ambil dalam hidup ini adalah bahwa quotes Usia Membuat Dewasa hanya berlaku untuk sebagian orang saja, terkadang orang berfikir kalau semakin lanjut usia seseorang, maka semakin bijaksana orang tersebut. Padahal kenyataannya, pemahaman seseorang akan bijaksana tergantung kepada kemampuan orang itu dalam berpikiran positif dan terbuka ketika menghadapi suatu masalah, masalah kecil maupun masalah besar.

Ada seorang usia lanjut yang aku kira berpikiran terbuka, dewasa, dan bijaksana. Tapi ternyata aku hampir salah, ya, beliau memang berpikiran terbuka, dewasa dan bijaksana, tapi tidak cukup bijaksana ketika dia mendengar ide atau berita yang sudah jelas mana yang benar dan mana yang salah, hanya karena ide atau berita terseut datang lebih awal, sehingga tertanam di ingatannya kalau seseorang itu buruk, padahal berita yang datang selanjutnya mengatakan ternyata seseorang itu baik.

Untuk keadaan selanjutnya, terkadang dia secara tidak sadar mencari kesalahan orang tersebut, karena dia lebih ingat berita yang datang pertama kali dibandingkan yang setelahnya.

Hubungan antara orang tua dan anak-anaknya biarpun tidak erat didalamnya, tetapi di ingatan orang terpatri bahwa orang tua dan anak itu satu kesatuan, padahal banyak pula keluarga dimana anak tidak dekat dengan orang tuanya dan begitu pula sebaliknya.

Hampir semua orang melakukan ini, ketika orang tua ini tidak disukai dalam lingkungannya, orang-orang dalam lingkungan tersebut dapat dipastikan tidak suka kepada sang anak dari kedua orang tua tersebut, bahkan tidak jarang lebih tidak suka kepada si anak.  Mungkin karena anak merupakan sasaran yang lebih lemah. Yang orang-orang tidak tahu adalah, tidak sedikit pula sang anak tersebut disiksa batin (atau fisiknya) oleh orang tuanya. Seperti Kak Seto Mulyadi pemerhati anak mengatakan, bahwa kekerasan pada anak lebih banyak dilakukan oleh ibu kandung dibandingkan oleh ibu tiri.

Bagiku itu terdengar sadis, dirumah disiksa, diluar dikucilkan, tidak aneh kalau banyak anak yang “liar” tetapi banyak pula yang pasif hingga men-destruksifkan diri sendiri, hingga akhirnya bunuh diri.


Menurut aku ini saatnya bagi kita untuk lebih peka terhadap sekitar, merubah cara pandang kita dari kesatuan menjadi perorangan..